April 5, 2010

Kenapa Harus Pancasila?

Apa itu Pancasila?
Pancasila telah menjadi salah satu ikon dari Indonesia. Dasar dari negara Indonesia itu memiliki banyak cerita dibalik mencuatnya nama Pancasila pada sidang pertama BPUPKI yang ditetapkan sebagai hari kelahiran Pancasila.
Istilah “Pancasila” ada dalam khasanah kesusasteraan nenek moyang kita pada zaman keemasan Majapahit di bawah Raja Hayam Wuruk dan Maha Patih Gadjah Mada. Istilah tersebut dapat ditemukan dalam buku “Negarakertagama” yang berupa syair pujian dalam sarga 53 bait ke-2 karangan pujangga istana bernama Empu Parapanca pada tahun 1365. Syairnya berbunyi seperti berikut: “Yatnanggegwani pancasyila kertasangskarabhisekakakrama” yang artinya : “Raja menjalankan dengan setia kelima pantangan (Pancasila) itu, begitu pula upacara-upacara ibadat dan penobatan-penobatan” (Kaelan, 1987). Kelima pantangan tersebut adalah membunuh, mencuri, berzina, dusta, dan mabuk. Dengan demikian Pancasila bukanlah sebuah istilah baru yang diperkenalkan Ir. Soekarno pada zaman kemerdekaan.
Pancasila kini dikenal sebagai dasar dari NKRI. Berawal dari pidato Mr. Muhammad Yamin yang mengusulkan lima butir dasar negara pada tanggal 29 Mei 1945, yang kemudian ditajamkan oleh pidato Ir. Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 dalam pidatonya “Indonesia Menggugat” yang mengusulkan nama Pancasila  beserta kelima butirnya. Usulan dari Ir. Soeharto kemudian dirumuskan menjadi sistematik Pancasila pada tanggal 22 Juni 1945 (Piagam Jakarta). Rumusan tersebut kemabali disidangkan oleh BPUPKI pada tanggal 14 Juli 1945. Pada tanggal 9 Agustus 1945 rumusan tersebut dipersiapkan untuk penerimaan kemerdekaan Indonesia dari Jepang. Hingga pada tanggal 17 Agustus 1945 diproklamirkanlah kemerdekaan Indonesia yang dilanjutkan dengan pengesahan batang tubuh UUD ’45 yang memuat rumusan dari Pancasila pada tanggal 18 Agustus 1945. Menurut Prof. Dr. Notonagoro, S.H., Pancasila merupakan sesuatu yang ilmiah sebab memenuhi syarat-syarat kausalitas.
Pancasila adalah dasar konstitusi dari negara Indonesia, yang menjadi tujuan, falsafah, serta pedoman bangsa Indonesia dalam melangkah maju. Dalam Pancasila terkandung gambaran dari jiwa, kepribadian, pandangan hidup, dasar negara, sumber hukum, perjanjian luhur, cita-cita, dan ideology dari bangsa dan negara Indonesia (Kelan, 1987).

Kenapa Pancasila?
Gambaran singkat mulai dari sejarah munculnya nama Pancasila hingga diresmikannya Pancasila (sebagai dasar negara) tentu bukan tanpa makna. Semua itu memiliki arti yang sangat luas dan dalam. Semua itu menjelaskan bahwa Pancasila bukan sekedar dasar negara Indonesia atau sebuah produk politik dari zaman kemerdekaan yang muncul hanya dalam beberapa bulan saja. Lihatlah ke belakang dari diperkenalkannya istilah Pancasila oleh empu Prapanca yang dibarengkan dengan pantangan-pantangan dalam agama Budha (sebagai agama mayoritas pada saat itu). Kelima pantangan (dilarang membunuh, mencuri, berzina, berdusta, dan mabuk) tersebut menyiratkan kehidupan budaya asli Indonesia. Semua pantangan tersebut menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu memiliki budaya yang baik dan bermoral.
Sebelum ada Pancasila (sebagai dasar negara), unsur-unsur Pancasila telah dimiliki oleh bangsa Indonesia, dan telah melekat pada bangsa Indonesia. Unsur-unsur tersebut berupa adat-istiadat dan kebudayaan (Notonagoro, 1975). Baru pada tanggal 1 Juni 1945 lahirlah Pancasila (sebagai dasar negara). Pancasila telah ada sejak dahulu kala bersamaan dengan adanya bangsa Indonesia (Pringgodigdo, “Sekitar Pancasila”), karena setiap bangsa mempunyai jiwanya masing-masing/Volkgeist. Dalam hal ini Pancasila merupakan jiwa dari bangsa Indonesia.
Pancasila berakar dari kepribadian khas bangsa Indonesia. Mengutip pernyataan Drs. Kaelan dalam bukunya “Pancasila Yuridis Kenegaraan”, Negara Republik Indonesia memang tergolong muda dalam barisan negara-negara di dunia. Tetapi bangsa Indonesia lahir dari sejarah dan kebudayaan yang tua, melalui gemilangya kerajaan Sriwijaya, Majapahit, dan Mataram. Bangsa Indonesia lahir menurut cara dan jalannya sendiri yang merupakan hasil antara proses sejarah di masa lampau, tantangan perjuangan, dan cita-cita hidup di masa yang akan datang. Maka dari itu, Pancasila bukan lahir secara kebetulan pada tahun 1945, melainkan telah melalui serangkaian proses yang panjang, dimatangkan oleh perjuangan pahit yang mandiri, yang diilhami oleh gagasan-gagasan besar dunia, namun tetap berakar dari kebudayaan dan kepribadian bangsa sendiri. Secara tidak langsung, Pancasila telah mempersatukan kita semua sebagai bangsa dalam Nusantara.
Kemudian jika ditinjau dari sisi historis dicanangkannya Pancasila sebagai dasar negara, konsep-konsep dalam Pancasila telah merangkul seluruh bangsa Indonesia. Sila pertama mengenai Ketuhanan Yang Maha Esa telah disetujui oleh semua pemuka agama (yang resmi pada waktu itu). Agama Islam, Kristen, Katolik, Budha, dan Hindu sepakat bahwa konsep Ketuhanan yang mereka anut adalah Ketuhanan yang maha Esa. Sila pertama merupakan dasar dari sila-sila yang selanjutnya. Artinya seluruh sila telah mewakili kepercayaan-kepercayaan semua agama resmi Indonesia tanpa ada pengecualian disetiap lini kehidupan.
Kelima sila dari Pancasila membentuk suatu kemajemukan tunggal (menurut Prof. Dr. Notonagoro, S.H.). Semua sila mewakili lini kehidupan yang berbeda. Mulai dari agama, politik, sosial, keamanan serta budaya. Namun semuanya menjadi satu tanpa dapat dipisah-pisahkan. Semua sila tersebut adalah buah dari perenungan yang panjang para pendiri negara Indonesia yang bersumber dari kepribadian bangsanya sejak dahulu kala. Inilah budaya kita. Inilah kepribadian Indonesia yang sesungguhnya. Bangsa yang bermartabat, yang menjunjung tinggi kesopanan dan toleransi, yang selalu bahu membahu dalam menyelesaikan pekerjaan, dan selalu tolong-menolong tanpa pamrih. Inilah “Gotong-royong” khas Indonesia.
Jadi, itulah sebabnya kenapa Pancasila,  bukan yang lainnya, yang ditinjau dari segi asal-usulnya. Mulai dari asal usul istilahnya, filosofinya, historisnya, dan politisnya. Pancasila merupakan trandmark Indonesia yang tidak dapat diganti, walaupun hanya diganti namanya saja sekalipun. Pancasila adalah nilai-nilai asli kehidupan kita yang luhur. Mengganti Pancasila dengan yang lain berarti sama saja dengan melecehkan sejarah bangsa Indonesia yang lebih tua dari sejarah bangsa Amerika yang tersohor itu. Tidak mengakui Pancasila berarti mengkhianati perjuangan-perjuangan pahit para pendahulu kita. Terlepas dari serangkaian tindakan pemanfaatan Pancasila sebagai tameng politik, Pancasila harus tetap dihargai serta dihormati. Karena begitu banyak cerita dan makna yang sangat berharga dibalik kelahirannya.

Referensi:
Al Marsudi, Subandi. 2003. Pancasila dan UUD ’45 dalam Paradigma Reformasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Kaelan. 1987. Pancasila Yuridis Kenegaraan. Yogyakarta : Liberty
Pidato Soekarno “Indonesia Menggugat” dalam sidang I BPUPKI 1 Juni 1945

No comments: